![]() |
| 1 Abad Peradaban Papua di Aitumieri: Dari Cahaya Kijne, Bangsa Ini Harus Berdiri di Atas Kakinya Sendiri |
Teluk Wondama, 25 Oktober 2025 — Hari ini, genap seratus tahun sejak obor pertama peradaban dinyalakan di Aitumieri, Teluk Wondama, pada 25 Oktober 1925. Dari tanah inilah, seorang misionaris asal Belanda, Domine Izaak Samuel Kijne, menanamkan bukan hanya ilmu pengetahuan, tetapi juga benih kesadaran dan martabat bagi bangsa Papua.
Kijne datang dengan pandangan jauh ke depan. Ia percaya bahwa suatu hari nanti, bangsa Papua akan berdiri tegak, memimpin dirinya sendiri, dan menemukan jalannya tanpa bergantung pada bangsa lain.
Pesan nubuatan yang disampaikannya di Wasior, 25 Oktober 1925, kini menjadi gema sejarah:
“Sekalipun orang memiliki kepandaian tinggi, akal budi, dan ma’rifat, tetapi tidak dapat memimpin bangsa ini.
Tetapi bangsa ini akan bangkit dan memimpin dirinya sendiri.”
— Domine Izaak Samuel Kijne
Seratus tahun kemudian, kata-kata itu terasa seperti cermin. Papua memang telah melangkah jauh berkembang — hampir disetiap daerah — tetapi tangisan dan air mata masih mengalir di berbagai penjuru tanah ini.
Di balik kemajuan, masih ada luka yang belum sembuh.
“Rasa persaudaraan, cinta, dan kemanusiaan telah terkikis oleh kerakusan oligarki negeri ini,”
demikian refleksi yang muncul di tengah peringatan 1 Abad Peradaban Papua di Aitumieri.
“Refleksi ini bukan sekadar keramaian, tetapi panggilan jiwa agar setiap generasi merenungkan arti sejati menjadi Papua.”
Namun, di tengah kegetiran itu, pesan Kijne lain kembali memberi pengharapan:
“Barang siapa yang bekerja di tanah ini dengan setia, jujur, dan dengar-dengaran,
maka ia akan berjalan dari tanda heran yang satu ke tanda heran yang lain.”
— Izaak Samuel Kijne
Kalimat itu menjadi warisan rohani dan moral bagi generasi Papua masa kini — bahwa kemajuan sejati tidak datang dari kekuasaan atau kepintaran semata, melainkan dari ketulusan, kejujuran, dan kesetiaan terhadap tanah ini.
Satu abad telah berlalu. Aitumieri tetap menjadi simbol cahaya — cahaya pengetahuan, kesadaran, dan panggilan untuk membangun Papua dengan hati yang murni.
Kini, sejarah menunggu babak baru: apakah bangsa ini akan terus menulis kisah dengan air mata, atau dengan keajaiban yang lahir dari kesetiaan dan kasih kepada tanah Papua.









0 Komentar
Silahlan tulis komentar anda