MEDIA FAJAR TIMUR

teksss

Ticker posts

SELAMAT BERKUNJUNG DI ALAMAT INI

Header Widget

Sawah Responsive Advertisement

Dari Genggaman Menjadi Kenangan

Dari Genggaman Menjadi Kenangan
Judul : Dari Genggaman Menjadi Kenangan

Pagi itu, di atas meja kecil, secangkir kopi hitam yang hampir dingin menemani selembar kertas kusut penuh tulisan tangan.

“Nona, beta mo tanya... bagaimana seng pu kabar dipagi ini?”

Begitu baris pertama surat itu. Tulisan itu datang dari seseorang di jauh sana — dari laki-laki yang dulu pernah berjanji takkan pergi sebelum senja terakhir.

Nona Maya membaca ulang surat itu berkali-kali. Huruf-hurufnya terasa hidup, seperti membawa kembali suara lembut yang dulu ia kenal. Ia tersenyum kecil, lalu matanya perlahan basah.

“Nona e, beta su tarima se pung surat yang se kirim. Pono deng aer mata...”

Ia tahu, di antara tiap baris itu terselip sesuatu yang tak terucap: penyesalan, rindu, atau mungkin harapan yang sudah kehilangan arah.

Sudah tiga tahun berlalu sejak mereka berpisah.
Waktu itu Randy pergi ke kota — katanya hanya sebentar saja. Tapi hari-hari berubah menjadi bulan, dan bulan menjadi tahun.

Sekali dua kali ia kirim kabar. Lalu makin jarang, hingga akhirnya hanya surat inilah yang datang, dikirim lewat seorang teman yang baru pulang kampung.

“Mar suda jua, Nona e... beta suda jauh e... seng usah lai, seng usah ingat lai. Katong pung cinta dolo-dolo, di ujung jalan...”

Maya menutup surat itu dan memeluknya di dada.
Ia masih ingat hari perpisahan itu: Randy duduk di dalam mobil, melambaikan tangan sambil berteriak,

“Beta balik cepat, Nona e! Jaga diri baik-baik!”

Namun sejak hari itu, yang kembali hanyalah kenangan — dan bayangan di kepalanya.

Kini, Maya duduk diam di beranda, memandang ujung jalan yang sama. Angin pagi menyentuh pipinya , seperti mengingatkan bahwa ada yang belum selesai. Ia tahu, cinta itu tak benar-benar pergi; hanya berubah bentuk —

dari genggaman menjadi kenangan,
dari kata menjadi lagu.

Posting Komentar

0 Komentar