DI KEPALA ADA BEBAN, DI PUNDAK ADA HARAPAN
Kadang orang hanya melihat senyum seorang ibu, tapi mereka tidak pernah melihat beban yang ia pikul diam-diam. Dari rahimnya kita dilahirkan, dari pelukannya kita dibesarkan, dan dari hasil kebun yang ia tanam dengan keringat sendiri, kita bisa berdiri sampai hari ini.
Seorang ibu Papua memikul noken di kepalanya bukan hanya berisi sayuran—di sana ada beban perjuangan, ada doa yang tidak pernah terucap, dan ada tanggung jawab yang ia bawa setiap hari tanpa mengeluh.
Sementara di pundaknya, duduk seorang anak kecil—harapan masa depan, titipan Tuhan yang kelak akan menjadi pemimpin bagi keluarga dan masyarakatnya.
Ibu percaya satu hal:
“Biar hari ini beta yang susah, tapi suatu saat anak yang beta gendong ini akan bangkit, sekolah tinggi, bekerja baik, dan kembali memimpin keluarga dengan hati yang benar.”
Di kepala ada beban, di pundak ada harapan.
Beban itu berat, tapi harapan itu lebih kuat.
Dan di antara keduanya, berdirilah seorang ibu—perempuan Papua yang tidak pernah menyerah.
Semoga setiap anak yang membaca ini tidak lupa bahwa keberhasilan mereka hari ini berdiri di atas pengorbanan seorang ibu yang memilih lelah, agar anaknya bisa jadi hebat.
Dan pada akhirnya, ingatlah satu hal:
Tidak ada beban yang lebih berat dari beban seorang ibu, dan tidak ada harapan yang lebih suci dari harapan seorang anak yang ia besarkan dengan doa dan air mata.
Jika hari ini kau melangkah lebih jauh, berdirilah dengan rendah hati—
karena setiap langkahmu adalah bukti bahwa pengorbanannya tidak sia-sia.
Hargai ibumu selagi ia masih ada.
Sebab beban yang dulu ia pikul di kepala, kini berganti menjadi doa yang ia titipkan untuk masa depanmu.
Harapan itu kini ada di pundakmu.
Jaga, rawat, dan wujudkan dengan hati yang baik.









0 Komentar
Silahlan tulis komentar anda