MEDIA FAJAR TIMUR

teksss

Ticker posts

SELAMAT BERKUNJUNG DI ALAMAT INI

Header Widget

Sawah Responsive Advertisement

Jangan Diam Saja, Sayang

Jangan Diam Saja, Sayang
Judul: Jangan Diam Saja, Sayang

Malam itu, angin dari laut membawa dingin yang menusuk sampai ke tulang. Di beranda rumah papan itu, Randi duduk termenung dengan sebatang rokok di tangan, asapnya membentuk kabut tipis di bawah cahaya lampu 10 watt yang menggantung goyah. Dari dalam rumah, suara piring beradu dengan sendok terdengar pelan. Dia—perempuan yang sudah tiga tahun ia sebut “sayang”—tak juga keluar.

“Sayang…” panggil Randi pelan, tapi hanya suara ombak di kejauhan yang menjawab.

Ia menarik napas dalam, mencoba menahan gejolak yang dari tadi mengganjal di dada. Bukan karena marah, tapi karena diam Dia terasa lebih tajam dari seribu kata. Diam yang membuat hati seperti ditusuk perlahan, tanpa tahu luka itu kapan berhenti berdarah.

“Sayang, ada apa? Mengapa diam saja?”
Suara Randi kali ini sedikit bergetar. Ia berdiri, melangkah ke pintu, tapi berhenti setengah jalan. Ia takut—bukan pada jawaban Dia, tapi pada kemungkinan bahwa diam itu pertanda semua sudah terlambat.

Dari dalam, Dia tetap tak bersuara. Hanya langkah pelan menuju dapur, lalu derit kursi kayu yang digeser.

“Coba cerita ke sa…k,” lanjut Randi .
“Kalau memang beta salah, tolong jujur kasih beta. Biar sa bisa berubah... agar katong bahagia.”

Ia duduk di tangga rumah, pandangannya menembus gelap ke arah laut. Dulu, setiap malam begini mereka sering duduk berdua di sana, tertawa kecil sambil cerita cita-cita mereka nantinya. Tapi malam ini, semua itu terasa jauh.

Rokoknya hampir habis. Randi remas puntungnya dan buang ke tanah. Ia menatap pintu yang masih tertutup rapat.
“Sayang, jangan diam saja... kalau memang sa ada salah, sayang cerita kasih sa. Biar sa bisa berubah,” suaranya nyaris pecah.

Beberapa detik kemudian, pintu terbuka perlahan. Dia berdiri di sana, wajahnya separuh tertutup bayangan lampu. Mata yang biasanya lembut kini sembab, tapi tidak lagi meneteskan air mata.

“Randi,” katanya akhirnya, pelan tapi tegas.
“sa capek bicara terus, tapi ko cuma janji berubah. sa tunggu-tunggu ko berubah, tapi ko masih sama. sa diam bukan karena benci, tapi karena sa lelah.”

Kata-kata itu seperti angin dingin dari laut, menampar tanpa ampun.Randi menunduk, tak sanggup menatapnya.

“Kalau memang sa salah,” suaranya serak, “sa mo berubah sungguh-sungguh kali ini.”

Dia menghela napas panjang. “sa sudah dengar itu kalimat berkali-kali, Randi. Tapi setiap kali beta percaya, ko bikin sa patah lagi. Kadang, diam itu satu-satunya cara supaya hati beta tidak makin hancur.”

Randi tak menjawab. Ia tahu kali ini bukan tentang siapa benar atau salah. Ini tentang kepercayaan yang perlahan habis, seperti rokok yang sudah tinggal abu.

Malam semakin larut. Suara jangkrik mulai ramai. Randi berdiri, melangkah ke arah Dia, tapi jarak di antara mereka terasa seperti jurang.

“Sayang,” katanya dengan suara parau, “sa cuma mau bilang… sa masih mau belajar jadi orang yang lebih baik. Tapi kali ini, kalau ko mau diam… sa juga akan diam, dan belajar dari diam itu.”

Dia menatapnya lama, lalu memalingkan wajah ke laut.
Di kejauhan, ombak terus datang dan pergi, seperti cinta yang selalu ingin kembali meski sudah berkali-kali dihempas karang.

Dan malam itu, di antara diam dan janji yang belum pasti, mereka berdua tahu — kadang cinta tidak hilang, tapi hanya butuh waktu untuk menemukan cara baru agar bisa tetap tinggal.

Posting Komentar

0 Komentar