Jayapura, 26 Oktober 2025 — Aksi pembakaran replika mahkota Cenderawasih yang sempat viral di media sosial beberapa hari terakhir, diduga merupakan upaya pengalihan isu dari kematian 15 warga di Kampung Soanggama, Distrik Homeyo, Kabupaten Intan Jaya
Sejumlah tokoh masyarakat menilai, perhatian masyarakat sengaja diarahkan pada isu simbol budaya, sementara tragedi kemanusiaan di Soanggama belum mendapat kejelasan penanganan dari aparat penegak hukum.
“Kita tidak boleh lupa bahwa ada 15 nyawa manusia yang hilang di Soanggama. Pembakaran mahkota burung Cenderawasih itu jelas bentuknya mengungkapkan terhadap simbol identitas orang Papua, tapi jangan sampai kasus itu dijadikan alasan untuk menutupi tragedi yang lebih besar,” ujar Markus , tokoh pemuda asal papua, saat dikonfirmasi, Sabtu (26/10/2025).
Menurut Markus, kasus penembakan di Soanggama terjadi pada pertengahan Oktober lalu dan hingga kini belum ada keterangan resmi terkait pelaku maupun motif di balik kejadian tersebut. Warga setempat disebut masih trauma dan sebagian memilih mengungsi ke kampung tetangga.
Sementara itu, pengamat politik papua, M.Y , menilai kedua peristiwa tersebut menunjukkan adanya ketegangan sosial yang belum tertangani secara menyeluruh.
"Simbol budaya dibakar, manusia ditembak mati. Dua-duanya bentuk kekerasan terhadap martabat Papua. Seharusnya pemerintah pusat dan daerah tidak menutup-nutupi fakta di lapangan," ujarnya.
Hingga berita ini diterbitkan, aparat kepolisian di wilayah Papua Tengah belum memberikan pernyataan resmi mengenai perkembangan penyelidikan kasus penembakan di Soanggama. Sementara itu, video pembakaran Mahkota Cenderawasih masih ramai dibicarakan warganet, terutama di kalangan aktivis dan mahasiswa Papua.
Masyarakat menuntut dua hal sekaligus: penegakan hukum atas pelaku pembakaran simbol budaya Papua, serta keadilan bagi 15 korban penembakan di Soanggama.
“Jangan alihkan perhatian publik dengan simbol. Yang kita perlukan saat ini adalah keadilan,” tegas Markus.









0 Komentar
Silahlan tulis komentar anda