Pulang.
Apa arti kata pulang untuk kalian?
Setelah sekian lama mengembara mencari jati diri dan mencari validasi tentang makna kesuksesan — apakah kata pulang masih relevan untuk kalian?
Mungkin jika kepulanganmu membawa sesuatu yang bisa dibanggakan, momen itu akan jadi hari paling manis yang pernah kamu rasakan.
Namun jika kepulanganmu tak membawa apa pun dari perjalanan yang kamu lakukan — apakah kata pulang masih mau kamu perjuangkan?
Dalam menyambut hari raya ini, tak sedikit dari kita yang pulang ke kampung masing-masing. Banyak membawa kabar bahagia.
Namun bagaimana dengan mereka yang belum menjadi apa-apa?
Melalui film ini, saya ingin kita semua berkaca dan memahami apa yang dimaksud dengan sebuah kesuksesan.
Apa yang ada di pikiranmu jika mendengar kata ibu kota?
Hiruk pikuk, ramai, saling senggol sana sini — atau tempat untuk mengejar mimpi?
Mungkin itulah yang ada di pikiran Budi.
Kehidupan di ibu kota yang dulu ia dambakan ternyata tak berjalan sesuai ekspektasi.
Pekerjaan yang tak menjanjikan, tagihan sana-sini, hubungan cinta yang tak bisa memegang janji.
Buai indah ibu kota telah sepuluh tahun mendekap Budi dalam khayalan.
Kini setelah sekian lama berkorban banyak hal, usahanya tak juga membuahkan hasil.
Banyak sukses yang dulu Budi impikan, nyatanya berbuah busuk dan bahkan menyakiti hati orang-orang yang dulu berjuang bersamanya.
Semua pergi di jalan masing-masing.
Budi ditinggalkan — dalam kegelisahan.
Semua yang bisa ia perjuangkan telah sia-sia.
Dengan apa yang tersisa, Budi memutuskan menjual semua benda dan barang yang ia miliki.
Dan akhirnya... ia pulang.
Buat kalian yang masih takut pulang karena belum jadi apa-apa, contohlah Budi.
Gagah, berani, tak mengenal malu.
Ibunya sempat bergumam:
“Mengapa anakku pulang bawa koper, tapi isinya cuma cucian, cicilan, dan tagihan?”
Budi menampik: “Itu cuma coret-coretan, nanti Ayah yang bayarin.”
Hidup susah memang pelik, apalagi kalau dirasakan sendiri.
Maka tujuan utama Budi pulang — adalah untuk berbagi penderitaan.
Omong kosong kesuksesan ibu kota.
Ungkapan itu hanyalah hiasan belaka.
Mereka yang bilang sukses itu harus A, B, C, D, sampai Z — pasti punya “bantuan” atau “orang dalam”.
Ayahnya geram karena anaknya pulang tak bawa apa-apa.
Ia memaksa Budi cari kerja di kampung.
Tapi dasar Budi pemalas — lebih memilih push rank seharian.
Suatu malam, Budi berbicara dengan adiknya, Wati.
“Memangnya daftar kerja di kampung gak susah, toh?” tanya Budi.
Wati menjawab, “Walau susah, kalau mau berusaha, pasti ada kesempatan.”
Namun karena tak diberi uang oleh ayah untuk bayar tagihan, Budi terpaksa mencari kerja.
Sampai akhirnya, ayah membawanya ke rumah teman lama — namun malah berakhir canggung.
Ayah pun menyuruhnya antri loker di Alfamidi.
Di sana, Budi bertemu Lia, teman SMA yang kini sukses jadi reporter TV.
Beda nasib jauh.
Lia penasaran, “Sepuluh tahun di Jakarta, apa aja pencapaianmu, Bud?”
Tak mau dianggap gagal, Budi berbohong: “Sekarang saya pensiun, mau santai.”
Padahal sedang antri lowongan kerja.
Sesampainya di rumah, ayah bertanya hasilnya.
Budi menjawab ketus:
“Menolak kerja di sana. Jadi kasir harus senyum terus, buka tutup laci kasih kembalian — itu bukan gua banget.”
Jawaban itu membuat ayah geram.
Ibu lalu menasihatinya pelan:
“Umurmu sudah 38, adikmu 25. Masa masih begini terus?”
Tapi Budi tak mendengar.
Ibu akhirnya memilih duduk di kursi pijat di toko.
“Berapa harga kursi ini?” katanya.
“Anak ganteng mama mau beliin,” jawab Budi, bercanda.
Suatu hari, Lia menghubungi Budi lagi.
Ia butuh talent untuk film dokumenter agar bisa naik jabatan.
Ide awalnya tentang veteran perang, tapi sang narasumber meninggal.
Lia lalu memutuskan: kisah Budi — pria yang berjuang di ibu kota namun pulang tanpa membawa apa-apa.
Budi sempat ragu, tapi karena dulu ia suka menulis naskah film di SMA, ia menerima.
Syuting dimulai. Lia mewawancarai Budi, namun Budi kaku, tak pandai bicara.
Akhirnya Lia mengganti fokus — ke kisah ibu Budi.
Namun hasilnya kurang menyentuh.
Bos Lia marah, menyebut dokumenternya “cuma video orang nganggur biasa.”
Lia sedih, tapi terus mencoba.
Mereka akhirnya menemukan buku naskah lama milik Budi — kisah cinta sepasang lanjut usia.
Mereka memutuskan: buat film itu.
Ayah, ibu, dan Wati ikut membantu.
Syuting berjalan sederhana, tapi penuh semangat.
Masalah kecil datang silih berganti — kamera mati, baterai habis, tempat syuting digusur satpam.
Ayah mulai cemburu melihat ibu akting mesra dengan Pak Yanto, aktor lokal yang membantu mereka.
Pertengkaran tak terhindarkan.
Namun Budi tetap melanjutkan syuting demi mimpinya.
Lia merekam segalanya diam-diam.
Namun sebelum film selesai — ibu meninggal dunia.
Segala aktivitas berhenti.
Mimpi Budi padam.
Ayah terpukul, duduk di kursi duka selama tujuh hari tujuh malam, menatap hampa.
Film dokumenter Lia akhirnya tayang di TV — kisah Budi, kisah gagal dan kehilangan.
Semua orang membicarakannya.
Ayahnya yang marah, kini justru menonton film itu setiap malam — hanya untuk melihat sosok sang istri.
Budi sadar, hidupnya makin hampa.
Ia belum sempat membelikan ibunya kursi pijat yang dulu ia janjikan.
Suatu siang, Budi termenung.
Bayangan ibunya hadir.
Ia teringat: ibunya dulu lulusan terbaik universitas, tapi memilih hidup sederhana bersama ayahnya.
Ketika ditanya “Mengapa?”, ibunya menjawab:
“Wanita harus berpendidikan, bukan untuk mengungguli suami,
melainkan agar bisa mendidik anaknya dengan baik.”
Budi bertanya: “Mengapa aku gagal? Mengapa aku tak bisa seperti orang lain?”
Ibunya tersenyum dan berkata:
“Kesuksesan tak selalu tentang uang atau harta.
Kegagalan tak selalu buruk.
Sukses atau gagal hanya ada di omongan orang.
Jika tolak ukur kesuksesanmu adalah orang lain,
selamanya kamu akan merasa gagal.
Jangan kehilangan dirimu demi hal yang semu.
Sukses yang sebenarnya adalah saat kamu membawa kebahagiaan,
dan dirimu juga turut bahagia.”
Beberapa waktu kemudian, ayah meminta Budi menyelesaikan film itu.
Ia ingin membantu, agar masih bisa “melihat istrinya” di layar.
Tiga tahun berlalu.
Ayah menyusul ibu.
Seperti puisi — dua jiwa yang saling mencinta, tak terpisah bahkan oleh semesta.
Budi kini bekerja sebagai sopir taksi.
Wati membuka tempat kebugaran kecil.
Hidup sederhana, tapi damai.
Suatu hari, film pendek mereka memenangkan penghargaan internasional.
Ternyata Wati diam-diam mengirim film itu ke festival film di Cina.
Di akhir tayangan, muncul video sang ayah:
“Kami bangga pada anak-anak kami.
Mungkin mereka tak sehebat yang orang kira,
tapi mereka hal paling berarti di hidup kami.
Jika nanti kita bertemu lagi,
jangan harap kami berubah jadi lembut.
Kami tetap akan cerewet —
tapi sebelum itu, jalani hidupmu sebaik dan sebahagia mungkin.”
Sukses.
Satu kata yang dikejar hampir semua orang.
Tapi apa arti sebenarnya?
Apakah predikat “sukses” lebih penting dari segalanya?
Sering kali, kekayaan justru membuat kita kehilangan jati diri.
Kita berpura-pura demi hal semu, demi pandangan orang.
Padahal, jika tolak ukur kesuksesanmu adalah kekayaan —
selamanya kamu akan merasa gagal.
Sukses yang sejati adalah ketika kamu bisa membawa kebahagiaan,
dan dirimu juga ikut bahagia.
“Kalau kamu lagi punya banyak masalah,
dan itu berat banget,
tenang.
Gak usah buru-buru.
Tarik napas, buang perlahan,
ambil kopimu, korek rokokmu,
dan... sebatin aja dulu.”









0 Komentar
Silahlan tulis komentar anda