MEDIA FAJAR TIMUR

teksss

Ticker posts

SELAMAT BERKUNJUNG DI ALAMAT INI

Header Widget

Sawah Responsive Advertisement

Sangkar Derita

Sangkar Derita
 

_Angin sore berhembus pelan di antara pepohonan kering. Di tepi kampung yang sepi, seorang pemuda duduk di atas batu besar, menatap langit yang mulai memerah. Di pergelangan tangannya, rantai besi yang sudah berkarat masih membekas—bekas lama, tapi nyerinya belum hilang.

Namanya Lamares.
Ia sering berkata dalam hati, "Hidupku... tersiksa bagaikan terikat rantai raksasa."

Sejak kecil, ia telah menyaksikan tanahnya dijarah, hutan ditebang, dan suara rakyatnya dibungkam. Ia tidak pernah benar-benar bebas. Bahkan napasnya pun seolah harus diukur oleh suara teriakan penjaga pos yang selalu mengintai di tikungan jalan.

Setiap pagi, ia berjalan melewati barak penjajah menuju ladang. Di sana, ia harus bekerja dari fajar hingga senja. Tangan yang dulu memegang pena kini menggenggam cangkul.
Ia ingin berteriak, tapi takut. Ia ingin lari, tapi rantai tak terlihat menahan langkahnya.

Suatu hari, saat matahari terbenam, ia melihat seekor burung kecil tersangkut di jaring di antara pohon. Burung itu mengepak-ngepakkan sayapnya dengan sisa tenaga, mencoba melawan nasib. Lamares menatapnya lama, lalu perlahan melepaskan jaring itu. Burung itu terbang, meninggalkan langit jingga yang mulai gelap.

Air mata menetes di wajahnya.
"Hanya bagaikan burung... yang terkurung di dalam sangkar derita," gumamnya lirih.
Tapi sore itu, untuk pertama kali, ia merasa rantai di dalam dirinya mulai retak.

#fyp #foto #teks



Posting Komentar

0 Komentar