MEDIA FAJAR TIMUR

teksss

Ticker posts

SELAMAT BERKUNJUNG DI ALAMAT INI

Header Widget

Sawah Responsive Advertisement

Sio Nyong e, Sudah Cukup Jua

Sio Nyong e, Sudah Cukup Jua 
Judul: Sio Nyong e, Sudah Cukup Jua

Malam di pelabuhan itu sepi. Hanya suara ombak yang memecah kesunyian, beradu pelan dengan kayu dermaga yang mulai lapuk. Di ujung sana, seorang perempuan berdiri, rambutnya ditiup angin laut, matanya kosong menatap air yang memantulkan cahaya lampu kapal.

“Mau tutup sampai di mana, Sio nyong e?”.
Semua yang ia tahan, semua yang ia pura-pura tidak tahu, malam itu meledak pelan di dadanya.

“Semua beta su tahu… mau pake cara yang bagaimana lai? Sudah cukup jua, nyong e.”
Air matanya jatuh tanpa suara. Ada kecewa yang tidak butuh penjelasan, hanya diam yang panjang dan menusuk.

Selama ini, dia tidak pernah lelah mencintai, walau hatinya sering ditipu dengan kata manis. Luka itu tidak nampak di kulit, tapi di hati yang dalam, tempat semua janji dan harapan diletakkan—lalu dikhianati.

“Seng pernah ko tahu, rasa hati ini bagaimana,” bisiknya.
Laki-laki itu terlalu sibuk dengan dirinya sendiri—dengan wajah ganteng dan sikap yang membuat semua orang terpikat. Tapi di balik semua itu, ada sifat yang selalu asal buat, tanpa pikir kalau yang di seberang hati sedang menahan perih.

“Jang asal buat bikin katong saki e,” katanya, menatap laut yang bergelombang.
Perkara tingkah buruk itu sudah terlalu sering. Ia tidak lagi marah, hanya lelah.

Sekali lagi ia menatap ke langit.
“Sio saki e... Seng salah apa-apa dapa bikin e. Beta seng paham, rasa ni mau bagaimana.”
Ia tahu, akhir dari semua ini sudah ditulis. Dan jujur, ia percaya Tuhan pun tidak menghendaki cinta yang begini—cinta yang saling melukai, bukan saling menyembuhkan.

Ia menarik napas panjang.
“Kalau cuma main-main, mengapa musti beta yang jadi tempat par se pulang oh? Jadi tempat par pulang…”
Kata-kata itu bergetar, lebih karena kecewa daripada marah.

Ia ingin sekali bertanya, di mana perasaan laki-laki itu disembunyikan. Mengapa cinta yang dulu hangat kini terasa dingin dan berat.
“Mengapa musti belahan cinta, ke mana janji yang se su bilang?”

Tapi malam tidak menjawab. Ombak tetap memukul pantai.
Dan mungkin, laut pun tahu bahwa perempuan itu sudah selesai bertahan.

“Kalau mau pergi, silahkan. Kalau seng suka, tinggal bilang. Jang paksa mencintai dua orang sekaligus.”
Suaranya pelan, tapi tegas. Tidak ada lagi nada memohon.

Ia berjalan pelan meninggalkan dermaga itu. Bayangan tubuhnya menyatu dengan gelap malam.
“Su salah... selalu saja terlibat hubungan yang selalu salah,” katanya sekali lagi.

Dan untuk terakhir kalinya, ia berhenti, menatap laut yang dulu jadi saksi cinta mereka.
“Tahu akhir bagini… jujur Tuhan beta seng mau.”

#fyp #foto #teks

Posting Komentar

0 Komentar