MEDIA FAJAR TIMUR

teksss

Ticker posts

SELAMAT BERKUNJUNG DI ALAMAT INI

Header Widget

Sawah Responsive Advertisement

Vaedah Hidup Seorang Pemimpin

Vaedah Hidup Seorang Pemimpin
Vaedah Hidup Seorang Pemimpin


 

Pagi itu kabut masih bergelayut di atas perbukitan . Embun menetes di ujung daun sagu, dan burung-burung kecil bernyanyi dari arah kali yang mengalir tenang di bawah kampung. Di beranda kantor kampung yang terbuat dari papan tua, Yonas Krewen, kepala kampung yang dikenal tegas dan berhati lembut, duduk sambil menyesap kopi panas dalam cangkir kaleng.

Ia memandangi jauh ke arah lembah. Dari sana, terlihat ladang-ladang jagung yang mulai menguning. Udara dingin menusuk, tapi pikirannya justru hangat.
Ia bergumam pelan,

“Kesuksesan baru terasa berharga kalau jalan menuju ke sana berliku-liku.”

Tak ada yang tahu betapa panjang jalan yang ia tempuh.
Dulu, Yonas hanyalah seorang petani yang hidup sederhana bersama istrinya di rumah berdinding gaba-gaba. Ia sering turun ke kebun, menanam kasbi, keladi, dan pisang. Saat musim lapar melanda, ia tak hanya memikirkan keluarganya sendiri. Ia berbagi hasil kebun dengan para janda dan anak yatim di kampung.

Namun, banyak yang tak mengerti hatinya.
Ada yang menertawakannya, bahkan memfitnahnya.

“Ah, Yonas itu bodoh. Semua hasilnya dia bagi. Bagaimana mau kaya?”

Yonas hanya diam. Ia tahu, jangan buang emas di kandang binatang, karena mereka akan menginjak-injaknya tanpa tahu nilainya.
Ia menyimpan kalimat itu di hatinya, menjadi pengingat agar tidak kecewa pada orang yang belum mengerti kebaikan.

Tahun-tahun berjalan.
Ketika kampung dilanda perpecahan karena dana bantuan yang tak sampai ke warga, orang-orang mulai mencari sosok yang bisa dipercaya. Dan entah siapa yang memulai, nama Yonas disebut di balai kampung.

“Biar Yonas saja jadi kepala kampung. Dia tidak banyak omong, tapi kerja nyata,” kata seorang tokoh tua, sambil menepuk bahunya.

Sejak hari pelantikannya, Yonas berjanji:

“Beta tidak mau bangun kampung hanya dengan uang, tapi dengan hati dan gotong royong.”

Ia memulai dari hal kecil — memperbaiki jembatan bambu, menanam pohon di pinggir kali, membangun rumah baca untuk anak-anak. Perlahan, kampung yang dulu kusam mulai berubah.

Kini, setiap kali anak muda datang meminta nasihat, Yonas akan menunjuk ke sebuah batu besar di samping kantor kampung. Batu itu dulu dibuang oleh para tukang karena dianggap tak berguna. Tapi ketika pondasi kantor hampir ambruk, batu itu diangkat kembali dan dijadikan penyangga utama.

Yonas menepuk batu itu sambil berkata,

“Anak-anakku, batu yang dibuang tukang, suatu saat bisa jadi batu terpenting. Begitu juga manusia. Jangan remehkan orang kecil, sebab waktu bisa tunjukkan siapa yang benar-benar berharga.”

Sore itu, ketika matahari mulai tenggelam di balik hutan , cahaya jingga menyapu wajah Yonas yang penuh keriput tapi berseri. Ia menatap kampungnya yang kini tenang dan makmur, lalu berbisik pada dirinya sendiri,

“Inilah vaedah hidup seorang pemimpin — bukan untuk dihormati, tapi untuk melayani.

Posting Komentar

0 Komentar