Judul : Kenali Pola Mereka agar Kamu Tidak Terjebak
Di sebuah ruang kerja kecil yang sering dipenuhi suara ketikan dan gelas kopi, Mira duduk di meja paling dekat jendela. Ia tidak suka keramaian, tetapi ia suka mengamati orang. Dan dari semua orang yang ia temui, ada satu jenis yang selalu membuatnya merasa aneh—bukan karena mereka jahat terang-terangan, melainkan karena cara mereka menjatuhkan orang sangat halus, hampir tak terdengar.
Salah satu contohnya adalah Rani, rekan kerjanya. Rani tidak pernah mengkritik secara langsung, tapi selalu punya cara membuat orang tampak ragu pada dirinya sendiri. Saat Mira berhasil menyelesaikan proyek besar lebih cepat dari tenggat waktu, Rani tersenyum dan berkata, “Keren sih, Mir. Cuma sayang ya… kamu masih kurang berpengalaman. Tapi gapapa, namanya juga belajar.”
Kalimat itu terdengar seperti pujian. Tapi seperti gula yang sudah dicampur garam, rasanya tidak pernah benar-benar manis. Di awal, Mira menelan saja. Ia merasa mungkin memang ia kurang. Mungkin hasil kerjanya tidak cukup bagus. Mungkin ia harus lebih rendah hati.
Namun semakin lama, ia mulai melihat pola yang sama di banyak kesempatan. Ketika rekan lain dipuji, Rani selalu menambahkan “iya, tapi…”, ketika ada rapat tim, Rani selalu membangun narasi yang membuat orang lain tampak salah—tanpa pernah mengangkat suaranya. Semua samar, halus, tapi konsisten.
Sampai akhirnya, suatu sore, Mira memperhatikan sesuatu: setiap sindiran itu keluar bukan karena kesalahan orang lain, melainkan muncul saat seseorang melakukan hal yang tidak bisa dilakukan Rani. Setiap “pujian” yang disisipi racun itu ternyata bukan cermin untuk menilai orang lain, melainkan jendela ke dalam hati Rani sendiri.
Kesadaran itu mengubah segalanya.
Mira tidak lagi marah, tidak lagi tersinggung. Ia hanya mengangguk sambil tersenyum setiap kali Rani menyelipkan komentar sarkastik. Di dalam dirinya, ia tahu: itu bukan tentang dirinya. Itu tentang ketakutan Rani kehilangan tempat, kehilangan pengakuan, kehilangan cahaya.
Dan saat seseorang tidak berdamai dengan dirinya sendiri, mereka akan mencoba memadamkan cahaya orang lain agar cahayanya tampak lebih terang.
Sejak itu, Mira tidak merasa terjebak lagi. Ia berhenti mengambil setiap kata Rani sebagai serangan pribadi. Ia belajar membangun jarak sehat—tidak perlu konfrontasi, tidak perlu drama. Ia hanya mengerti, lalu memilih tidak terjebak dalam permainan yang bukan miliknya.
Di akhir hari, ia berjalan keluar kantor dengan langkah ringan. Ia sadar bahwa memahami pola orang bukan untuk membalas, tetapi agar kita tahu mana kata yang harus kita dengar… dan mana yang cukup kita biarkan berlalu bersama angin.
#fyp #foto #teks









0 Komentar
Silahlan tulis komentar anda