MEDIA FAJAR TIMUR

teksss

Ticker posts

SELAMAT BERKUNJUNG DI ALAMAT INI

Header Widget

Sawah Responsive Advertisement

Wanita Cantik Awalnya Diremehkan Tapi Ternyata



Berlatarkan tahun 1995 di Tiongkok, tepatnya di Provinsi Fujian, terlihat dua saudara perempuan bernama Shomei dan Yuni sedang berlatih bela diri di halaman bersama ayah mereka. Sementara itu, sang ibu bernama Yuksin mengawasi mereka dari jendela sambil menyiapkan makan siang. Tiba-tiba terdengar suara bel sepeda dari jarak jauh. Awalnya ibu mengira itu tukang es karena sang ayah langsung meminta istrinya membawa Mei yang masih kecil masuk ke dalam rumah.

Namun ternyata sang ayah sengaja menyuruh istrinya menyembunyikan Mei. Pada masa itu, program keluarga yang direncanakan diterapkan sangat ketat, sehingga kelahiran anak lebih dari satu dianggap pelanggaran. Mei sebenarnya dilahirkan secara rahasia tanpa sepengetahuan pemerintah. Yuksin segera menggendong Mei dan bersembunyi di dalam lemari sambil bernyanyi lembut agar sang anak tidak bersuara.

Bertahun-tahun berlalu. Mei tumbuh menjadi wanita muda yang cantik. Ia mengikuti sebuah truk menuju gedung pabrik remang-remang sambil menggenggam bangau kertas buatan ibunya. Seorang wanita paruh baya bernama Madam memeriksa para gadis yang baru datang. Ia memerintahkan mereka melepaskan pakaian untuk menentukan di mana mereka akan dijual—ke tempat pijat atau rumah bordel. Namun Mei menolak menanggalkan pakaiannya. Ternyata ia datang ke tempat itu bukan untuk dijual, melainkan mencari kakaknya, Yuni, yang hilang. Melihat ketegasannya, Nyonya memerintahkan anak buahnya menahan Mei, namun Mei mampu mengalahkan mereka karena sejak kecil telah berlatih bela diri.

Mei kemudian mencekik Nyonya sambil memaksanya mengaku. Seorang lelaki tua memberi tahu bahwa Yuni berada di lantai atas. Mei segera berlari menaiki tangga dan mengambil kaset CD yang dipatahkannya menjadi dua sebagai senjata. Keributan terdengar hingga lantai atas. Para penjaga menduduki, tetapi Mei terus melawan. Ia mencari Yuni hingga ke area servis dan ganti oli, namun tidak terjadi.

Seorang nenek memberi isyarat penting kepadanya, kemungkinan besar tentang lokasi Yuni. Ketika Mei berbalik, para gengster mengejarnya hingga ia terpojok di dapur. Peralatan dapur—panci, piring, toples—berubah menjadi senjata mematikan di tangan Mei. Ia memanggil para gengster dengan tong minyak mendidih dan berhasil kabur.

Mei keluar restoran dan tanpa sadar telah berada di Roma, tepatnya di kawasan Pecinan. Ia tiba di restoran Italia milik keluarga Lorella atau Mamah Ella. Dua pelanggan asing sedang berselisih soal tagihan, membuat Marcelo, anak Mamah Ella, keluar dari dapur untuk menenangkan mereka. Ketika keadaan reda, Mei masuk dan mencari seseorang bernama Alfredo. Marcelo yang masih emosi mengusirnya, tetapi setelah mendengar penjelasan terbatas, ia menyebut bahwa Alfredo adalah ayah yang baru saja kabur bersama wanita Tionghoa—yang kemungkinan adalah Yuni.

Mei meninggalkan restoran. Sementara itu gengster lokal bernama Sugih bersama Komar dan Pipit sedang menagih utang. Ketika Sugih melihat wajah Marcelo penuh memar, ia mencari informasi dan mendapati bahwa pelakunya adalah wanita berkulit kuning yang mencari masalah. Ia pun pergi ke restoran Cina milik Bos Wang. Wang menolak terlibat, tetapi suguhan rekaman suara membuatnya menduga bahwa wanita tersebut adalah Mei.

Di rumah, Marcelo mendapati ibunya larut dalam kesedihan. Ayahnya, Alfredo, kabur bersama wanita lain. Ella merasa hidupnya tidak adil, apalagi ia menyimpan banyak tawaran dari para pelanggan asing yang mengagumi keindahannya. Marcelo baru menyadari bahwa ibunya populer di restoran dan merasa puas karena terlalu sibuk bekerja. Bahkan Sugih diam-diam menyimpan rasa pada Ella.

Marcelo menjelaskan bahwa ia akan menabung secara perlahan untuk melunasi utang-utang ayahnya. Namun Sugih lebih tertarik menangkap Mei demi menunjukkan kekuasaannya di kawasan itu. Komar dan Pipit kemudian mencoba mengikuti Mei hingga pasar. Keduanya dihajar oleh Mei menggunakan ikan tongkol dan kemampuan pertarungannya.

Sugih yang mendengar kekalahan itu mendatangi Malik, seorang pria besar yang berutang padanya, menawarkan penghapusan hutang jika ia berhasil menangkap Mei. Sementara itu, Mei berhasil menyandra penerjemah milik Bos Wang dan memaksa Marcelo menggali lubang di pinggiran kota. Mereka menemukan dua jenazah: Yuni dan Alfredo, keduanya dikubur secara brutal.

Penerjemah mengatakan bahwa menurut Mei, Alfredo membunuh Yuni. Marcelo tak percaya, sebab ayahnya juga ikut pemakaman. Pria itu menyuruh Marcelo bertanya pada Bos Wang sebelum kabur. Mei memeluk jenazah kakaknya dan membawanya ke pantai untuk dikremasi. Marcelo menghubungi Sugih. Sugih terpukul mengetahui Alfredo telah mati—ternyata mereka teman lama.

Sugih membawa Marcelo ke sebuah apartemen yang disewakan Alfredo untuk Yuni. Di sana terdapat foto-foto lama Marcelo. Sugih menegaskan bahwa Alfredo mencintai keluarganya meski berbuat salah. Namun Marcelo tetap murka.

Marcelo kemudian mencoba menyerang Bos Wang di restoran Cina tetapi gagal karena tubuhnya lemah. Mei, yang melihatnya dari jauh, menyusup ke pabrik Bos Wang untuk membalas dendam. Ia menyamar sebagai pemandu lantai dan mendekati bos, namun pertarungan besar terjadi. Mei dihajar hingga tak berdaya sebelum dilempar ke luar. Ia menyelamatkan koki Italia yang mengenalnya.

Marcel diminta menjaga Mei. Ia membawa Mei ke apartemen yang dulu disewa ayahnya dan merawatnya. Mei ketakutan ketika dikurung karena alasan keamanan, namun akhirnya Marcelo mengajaknya berjalan-jalan keliling kota. Mei bercerita bahwa sejak lahir ia disimpan selama 20 tahun akibat kebijakan satu anak. Yuni bekerja keras mengumpulkan uang denda agar Mei bisa hidup bebas hingga akhirnya meninggal karena dijual oleh sindikat. Mei membalas dendam.

Marcelo mulai jatuh cinta padanya. Namun keesokan harinya, Mei menghilang. Bos Wang muncul di konser putranya, Magio. Di antara kerumunan ia melihat Mei dan menculiknya, membawa ke pabrik tua. Pertarungan terakhir pecah. Mei menggunakan rantai besi dan belati untuk menjerat Bos Wang dan memaksanya mengaku.

Dalam kilas balik, terungkap bahwa Alfredo jatuh cinta pada Yuni dan ingin menebusnya dengan menggadaikan restoran keluarga. Sugih melarang, tapi Alfredo ramah. Mereka berbincang dan Sugih membunuh Alfredo. Yuni kemudian membunuh Bos Wang dengan belati yang sama. Bos Wang menyerang Mei, namun Mei berhasil mengalahkannya.

Mei lalu jujur ​​kepada Marcelo bahwa Sugih yang membunuh Alfredo. Mendengar itu, Marcelo mengejar Sugih. Di restoran, ia melihat ibunya sedang makan bersama Sugih—membuat hatinya hancur. Marcelo tetap menyajikan mie Cina untuk Sugih dengan tangan bergetar. Sugih berdalih bahwa tindakannya dulu untuk menyelamatkan restoran. Pertikaian memuncak ketika Sugih menodongkan senjata ke arah Marcelo. Ella dan Sarah muncul. Sugih, panik tidak ingin menunjukkan sisi kelamnya pada perempuan yang ia cintai, memilih mengakhiri hidupnya sendiri di pelukan Marcelo.

Beberapa tahun berlalu. Kehidupan berubah. Mei dan Marcelo hidup bersama dan memiliki dua anak. Mereka meninggalkan masa lalu yang penuh darah, dendam, dan penyesalan, memilih menjalani hidup damai dengan hati yang bersih.

Cerita berakhir dengan pesan bahwa balas dendam tidak membawa kebahagiaan. Masa lalu boleh kelam, tetapi masa depan bisa dipilih lebih terang.

Posting Komentar

0 Komentar