MEDIA FAJAR TIMUR

teksss

Ticker posts

SELAMAT BERKUNJUNG DI ALAMAT INI

Header Widget

Sawah Responsive Advertisement

My Way di Tanah Papua: Natal, Air Mata, dan Perjalanan Kepemimpinan Megawati

 
Nama perempuan bergaun pink yang berdiri di sebelah Presiden Megawati Soekarnoputri itu adalah Alfrida Meles. Ia seorang perempuan Papua, masih berusia remaja, dan saat itu tercatat sebagai siswi salah satu SMA di Kota Jayapura.

Momen tersebut terjadi pada Perayaan Natal Nasional di Jayapura, 26 Desember 2002. Pada kesempatan itu, Megawati—yang akrab disapa Mega—menyanyikan lagu legendaris Frank Sinatra berjudul “My Way”, lagu yang populer sejak tahun 1970-an.

“I did what I had to do, and saw it through without exemption.
I planned each charted course.”
(Aku melakukan apa yang harus kulakukan, dan menuntaskannya tanpa pengecualian.
Aku merencanakan setiap langkah perjalanan.)


Sepenggal lirik itu dinyanyikan Mega dengan penuh penghayatan. Wajahnya tampak emosional, matanya berkaca-kaca. Tak mengherankan, sebab masa kepemimpinannya pada pertengahan 2001 hingga akhir 2002 merupakan periode yang sangat berat.

Indonesia kala itu dilanda berbagai ujian. Aksi terorisme berupa pengeboman terjadi di banyak tempat—restoran, sekolah, hotel, hingga gereja. Perekonomian nasional belum sepenuhnya pulih dari krisis besar tahun 1998. Bencana alam pun silih berganti, mulai dari banjir, gempa bumi, hingga longsor.

Di saat yang sama, konflik bernuansa agama antara Islam dan Kristen di Maluku menelan banyak korban sipil dan meninggalkan luka sosial yang dalam.

Memasuki awal tahun 2002, Mega memiliki harapan besar: agar anak-anak di Maluku dapat merayakan Natal pada 25 Desember 2002 dengan sukacita dan damai. Ia pun mengupayakan berbagai langkah untuk meredakan konflik tersebut.

Puncaknya, pada 13 Februari 2002, dilaksanakan Perjanjian Malino II, sebuah kesepakatan damai untuk mengakhiri konflik agama di Maluku. Peran Megawati sangat krusial. Sebagai presiden, ia menjadi fasilitator utama melalui TNI dan Polri demi memastikan proses perdamaian berjalan lancar di Kota Malino, sebuah kota kecil yang sejuk di dataran tinggi Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.

Pasca-konflik, pemerintah juga menjamin rehabilitasi wilayah terdampak, termasuk perbaikan kerusakan serta pengiriman tenaga medis dan psikolog untuk membantu para korban.

Atas berakhirnya konflik di Maluku itulah, Megawati kemudian meminta agar Perayaan Natal Nasional tahun 2002 diselenggarakan di Indonesia bagian Timur, tepatnya di Jayapura, Provinsi Papua.

Kembali ke panggung Natal malam itu, Mega melanjutkan lagu “My Way”:

“I've loved, I've laughed and cried.
I've had my fill, my share of losing,
and now, as tears subside.”
(Aku telah mencintai, tertawa, dan menangis.
Aku pernah merasa puas, aku juga pernah kalah.
Dan kini, saat air mata mulai reda.)


Sepenggal lirik itu seakan merangkum perjalanan batin seorang pemimpin—tentang perjuangan, kehilangan, keteguhan, dan harapan akan masa depan yang lebih damai.
 
Red/CS 

Posting Komentar

0 Komentar